Tampilkan postingan dengan label Prosa. Tampilkan semua postingan
Tampilkan postingan dengan label Prosa. Tampilkan semua postingan

Kamis, 30 Juni 2016

Review Film Jilbab Traveler: Love Sparks in Korea

Akhir-akhir ini perasaan saya sedang kacau. Setiap kali menyimak lini masa di media sosial, hampir selalu ada kejadian-kejadian yang tidak terduga dan berhubungan dengan masalah parenting. Ada anak yang depresi menghadapi tekanan berat dari orang tuanya yang ingin dia mengikuti apa-apa yang dimaui mereka. Ada ayah-ibu yang overprotective terhadap putra-putrinya sehingga perkara remeh cubitan guru sampai harus diperkarakan di pengadilan, padahal masih bisa diselesaikan secara kekeluargaan di lingkungan sekolah. Ada anak-anak seusia SD sudah 'dewasa sebelum waktunya' dengan meniru perilaku negatif dari senior-seniornya, pacaranlah, merokoklah, ucapan-ucapan kotor dan vandalismelah, tidak menghormati orang tua dan oranglainlah. Pikiran-pikiran itu terus bergelayut dalam benak saya, apa sebenarnya yang salah dengan didikan di negeri ini, pikiran-pikiran itu pula yang tetap membersamai saya sampai tiba waktunya menunaikan undangan Asma Nadia lewat Rumah Baca Asma Nadia menonton Gala Premiere film Jilbab Traveler: Love Sparks in Korea yang diadaptasi dari best selling novel Asma Nadia dengan judul sama garapan Rapi Films. 
 
Sudah jadi skenarionya Allah SWT, Dia memberikan jawaban tuntas kegelisahan saya lewat film ini. Dari awal, kelopak mata saya ini terus terbuka (tentu saja dengan tetap berkedip sesuai mekanisme standar tubuh kita) mengetayangi scene-demi-scene yang disuguhkan JTLSIK (akronim beken dari film ini). Terus terang, dibalik kisah romansa dan perjuangan mewujudkan mimpi yang membumbui JTLSIK, sisi parenting dalam film ini saya katakan, "Sangat kuat!"Saya suka bagaimana cara ayah Rania Samudra memotivasi anaknya untuk menjadi seorang muslimah penjelajah. Caranya tidak dengan komando, tetapi dari hati. Siapa pun pasti mengaminkan bahwa sesuatu yang datangnya dari hati maka akan kembali pada hati. Ayah (dan Ibu) Rania tahu betul seni mendidik putra-putrinya. Dan, membuat saya kagum, Rania bukan anak manja. Dia berusaha semampunya untuk memenuhi sendiri kebutuhan hidupnya. Dengan apa? Silakan cari tahu sendiri dengan menonton filmnya ya.Dan, sebagai calon Ayah, saya pun belajar menjadi orang tua yang baik bagi anak-anak nanti, hingga kegelisahan saya hilang. Dan saya akan menjadi sangat bahagia ketika nanti, tidak ada lagi orang tua yang memaksakan kehendak pada anaknya, tidak ada lagi putra-putri yang depresi karena tekanan orang tuanya, tidak ada lagi kesalahan dalam mendidik keturunan-keturunannya. Tidak ada lagi kekeliruan dalam mengarahkan harapan-harapan kita kepada anak-anak. Seperti Rania, Saya merekam baik-baik ucapan ayah Rania:"Biarkan Rania menjadi mata dan kaki bapak untuk melihat dunia." 

JTLSIK bisa saya katakan, merupakan film recomended bagi pasangan suami istri, orang tua, karena di dalamnya kita dituntun tanpa merasa sedang digurui, ditunjukkan tanpa merasa sedang dipandu, dan ditemukan tanpa merasa tengah kehilangan. 

Apalagi momennya baik, JTLSIK diputar perdana bertepatan dalam nuansa lebaran, nuansa silaturrahim keluarga menjadi kian hangat seraya menonton film ini. [] 

23:18, Tungturunan-Cianjur  

(30/6)

Minggu, 26 Juni 2016

(Bukan) Belahan Jiwaku



Aku bahagia kau telah dipertemukan dengan belahan jiwamu, teman. Aku tahu perjuanganmu untuk menerimanya, tidak terbantahkan lagi. Ah, mestinya aku yang harus malu kepadamu. Disebabkan sesuatu hal yang sebelumnya aku rasa tidak perlu untuk kau tahu. Bahwa aku pun pernah turut berminat kepadanya, sesosok yang kini telah ditakdirkan untukmu, bersebab dia telah memilih kau daripada aku. Diam-diam, setiap kali kau menceritakan tentang dia, dan suka duka yang kau alami. Bahkan kadang, ada tangis yang leleh dari mukamu. O, ku tahu kau begitu mengharu biru mendapatkannya. Dan, diam-diam, bersebab itu aku menjadi penasaran untuk tahu siapa dia, yang telah berhasil menatahkan namanya di hatimu. Aku cemburu, dan bertanya di dalam hati seperti apakah dirinya sampai-sampai kau menarasikan tentang dia seolah tidak akan ada akhirnya. Aku pun mulai mencari-cari namanya dari sekian nama yang barangkali berkaitan denganmu. Dan dunia maya adalah sekat yang mudah, dari sana aku mulai tahu tentang dia. Aku ikuti setiap narasi yang dia utarakan di sana. Tanpa jemu dan bosan aku mengikutinya. Dia memang seperti yang kau ceritakan, teman. Begitu menarik. Dan, O.. meluluhkan hati. Kau beruntung sekali, dia bukan orang yang populer, yang memungkinkan baginya memiliki banyak pengikut di dunia maya. Tetapi, barangkali ada satu hal yang sama sekali dia tidak sadari. Bahwa, aku telah menjadi pengikutnya yang setia, sejak saat itu. aku bisa menyebut bahwa dia telah populer, bagiku. Belahan hati ini, dalam bisikannya yakni bisikan hatiku tentu, bilang bahwa aku telah menemukan apa yang selama ini aku dambakan. Meskipun itu, adalah dia yang juga kau sukai. Hingga jiwa-jiwaku melayang dalam khayalan indah, seakan-akan dia telah hadir untukku. Tetapi begitu aku tahu bahwa dia memilihmu, teman. Hatiku begitu rapuh. Hariku hanya diliputi uraian air mata. Harapan yang selama ini direnda, telah hilang begitu saja. Seperti hantaman tsunami yang tidak tebang pilih. Hidup setia selamanya hanya menjadi sebuah kalimat tanpa nyawa lagi bagiku. Sebab salahku juga, hanya berani mengaguminya dalam diam, dari sini. Di saat kau justru menjadi pusat perhatiannya belaka, satu-satunya. Dan begitu aku mendapati surat undangan yang di dalamnya bertuliskan namamu dan namanya, pada saat itu berakhir pula impianku untuk menjadi manusia paling bahagia di dunia. Kendati surat undanganmu itu disebarkan di dunia maya, akan tetapi aku tahu bahwa undanganmu itu bukanlah sesuatu yang maya. Benar. Sesuatu yang nyata dan akan terwujud tidak lama lagi. Dia, menjadi pendamping hidupmu. Kemudian sempat terlintas di dalam benakku, apa yang kemudian akan terjadi di antara kita, nanti. Masihkah kita berteman atau cukup disudahi saja sampai di sini.

Senin, 25 April 2016

The Key's

Oleh: HD Gumilang

"Praaang!"
Untuk yang kesekian kalinya, suara piring yang pecah telah memecahkan kesunyian pagi. Keysha tidak habis mengerti kepada Hadijah, kakaknya.  Dengan wajah yang datar, Hadijah beringsut kembali masuk dalam kamarnya. Membiarkan adiknya itu terpaku dalam kemarahan. Ada bulir-bulir air mata yang menetes dari pipinya.
Hadijah sama sekali bingung dengan apa yang diinginkan oleh adik semata wayangnya itu. Hadijah merasa sudah melakukan segala sesuatunya dengan maksimal. Dengan tulus. Tetapi tetap saja tanggapan dari adiknya itu hanya kemarahan. Ada sorot benci yang dia tangkap dari ekor mata adiknya itu.
Entah mengapa semenjak kepergian kedua orang tuanya untuk selama-lamanya, hidup mereka menjadi begitu kering kerontang.
Di kamarnya, Hadijah duduk bersimpuh di pojok ruangan. Ada sebuah buku tergeletak di sisinya. Di sana tertuliskan, "Mah, Pah.. Dijah tidak kuat..."

****

Keysha mengintip dari balik tirai rumah. Melihat kakaknya berjalan gontai hendak menunggu angkutan umum lewat. Dari mimik wajahnya, ada berjuta-juta dugaan yang terungkap lewat perasaannya. Entahlah, apakah marah betul ataulah sedih betul. Hanya Keysha dan Tuhan yang tahu.

****

Hana melihat Hadijah bermuka suram. Berlinang. Sebagai sahabat, ia mendekatinya untuk menawarkan diri sebagai teman curhat. Gadis anggun dan semampai ini memang mempunyai peran yang besar terhadap karir Hadijah. Dialah yang berhasil menemukan bakat terpendam Hadijah, sebagai desainer busana muslimah. Kemampuan desain Hadijah yang luwes dan filosofis telah berhasil mengantarkannya di posisi penting sebuah perusahaan fashion muslimah terkemuka di kota itu.

****

Suatu hari sepulang sekolah, Keysha bercerita kepada sahabatnya, Alya. Keysha menceritakan soal perilaku kakaknya. Dia menilai, kakaknya semakin menjauh darinya. Gila tehadap pekerjaannya. Tidak peduli padanya, bahkan sudah tidak terhitung lagi berapa kali kakaknya itu menutup diri darinya. Seakan-akan Keysha hanya dianggap tidak ada sama sekali. Tetapi.. Sebenarnya Keysha tidak benci kepada kakaknya. Keysha hanya ingin hanya butuh perhatian  cinta, kasih dan sayang. Sebab semenjak orang tuanya tiada, Hadijah lah tempatnya bersandar, tempatnya bertahan. Tempatnya berlindung.
Keysha selalu sedih setiap kali kakaknya berangkat kerja. Dia kerap ditinggal sendirian di belakang, selalu menjadi orang yang terakhir meninggalkan rumah. Sebenarnya Keysha pun kasihan kepada kakaknya yang setiap pagi harus mengejar angkutan umum.
Pelan-pelan Keysha menjadi benci juga kepada pekerjaan kakaknya. Dia menganggap pekerjaannya itu sudah menculik kakak darinya. Diapun cemburu kepada angkutan umum yang setiap pagi dikerjar kakaknya. Dia cemburu, kenapa harus angkutan umum yang dikerjar Hadijah, mengapa bukan dia adiknya yang dikejar... Sadarlah kak, adikmu ini semakin jauh darimu.. Ditinggal dibelakangmu!
Perlahan.. Keysha dan Hadijah semakin menjauh...

***

Untuk pertama kali seumur hidupnya, Keysha menyaksikan Hadijah marah-marah, naik pitam. Hanya karena Keysha ketahuan masuk kamarnya tanpa izin, dan tertangkap basah sedang memegang buku catatan milik kakaknya itu. Hadijah tidak mau seorangpun menyentuh buku catatannya, bahkan adiknya sekalipun.
Bagi Keysha... Jiwanya terguncang. Selama ini dia berpikir tidak mungkin kakaknya bisa marah sebegitu rupa. Oleh karenanya Keysha heran, ada yang tidak wajar sebab kakaknya tidak bisa marah. Tapi ternyata dia salah.
Keysha ingin membela diri bahwa dia sama sekali tidak membaca satu barispun catatan yang ada didalam buku itu.
Lambat laun Keysha bertambah bencinya. Bukan benci pada kakaknya, tetapi benci pada apapun yang selama ini sudah menarik perhatian dari kakaknya itu. Termasuk kepada buku catatan kakaknya itu! Lintasan pikirannya sempat hinggap sebuah niat, untuk membakar saja buku catatan itu. Tapi Keysha masih ragu, dia takut. Takut terjadi sesuatu.

***

Tidak ada yang didambakan oleh seorang wanita lajang yang karirnya melesat dan cukup mapan selain mulai memikirkan calon pasangan hidupnya. Adakah manusia yang menolak untuk jatuh cinta? Tentu tidak! begitu bisikan hati Hadijah. Sebagai wanita dewasa, ia mulai berpikir untuk memulai hubungan yang serius dalam bingkai pernikahan.
Pada mulanya adalah Haya, sahabatnya itu yang menceritakan pribadi seorang lelaki bernama Ilham. Branch manager di tempat mereka bekerja. Tampan, masih muda, murah senyum dan peduli kepada sesama. Keramahannya itu berhasil menyita perhatian Hadijah juga.
Kepada Haya pula Ilham mengutarakan rasanya yang sama: ingin menikah dengan Hadijah.
Tetapi ujian itu datang. Lewat selembaran di papan pengumuman, perusahaan tempat mereka bekerja melarang pernikahan sesama karyawan kantor kecuali salah satu darinya mundur dari pekerjaannya. Maka, Hadijah pun bimbang.. Berpikir panjang.

***

Tanpa Keysha sadari, Hadijah sore itu pulang lebih dulu. Keysha sedang berbicang dengan Alya sahabatnya. Keysha berterus terang bahwa sebenarnya ia rindu dengan kakaknya yang dulu, yang selalu setia membersamainya sejak orang tua tiada. Setia memboncengnya dengan matik butut miliknya. Mengantar jemput ke sekolah ataupun menunggu dirinya selesai mengerjakan tugas kelompok di rumah temannya.
Hingga masalah itu datang. Tanpa orang tua, kakak beradik ini kesulitan finansial. Matik butut itupun akhirnya dijual demi membiayai kelanjutan sekolah Keysha.
Keysha menangis menyaksikan kunci matik butut itu berpindah tangan. Seakan-akan segala kenangannya pun telah hilang dibawa pergi. Sedangkan Hadijah kesana kemari mencari pekerjaan. Namun hasilnya nihil.
Hingga akhirnya kakaknya itu bertemu dengan Haya, yang tahu bahwa Hadijah pandai membuat sketsa dan desain karena luwes jemari tangannya. Pada awalnya Keysha bahagia sebab dengan itu dapur kembali mengebul.
Sayangnya, kebahagiaannya hanya sebentar. Hadijah berubah menjadi sibuk. Jauh dengannya dan hampir tidak lagi akur. Sehari-hari selalu saja ada pertengkaran yang terjadi.
Keysha rindu masa itu, masa lalu itu. Keysha rindu masa ketika bisa menghabiskan waktu di motor berdua, bicara kesana kemari, hanya ada bahagia dan senyum belaka yang mewarnai hari mereka. Keysha rindu. Kerinduan yang menurutnya susah untuk dikembalikan lagi. Kerinduan yang sakral.
Dibalik tirai, Hadijah mendengarkan cerita adiknya itu dengan berurai air mata.

****

Hadijah mengunci kamarnya. Dia duduk di meja belajar menghadap buku catatannya. Dia ambil kunci kecil dan membuka gemboknya. Padanya ia menulis:
Key.. adikku, bukanku membangun jarak dengamu hingga seperti ini. Hanya karena kakakmu ini kelu untuk bicara. Semenjak kematian orang tua kita itu. Tetapi bila sikap kakak sekarang membuatmu benci, bencilah kakak. Bila sikap ini membuatmu kesal, kesallah padaku. Kakak tidak berdaya. Kakak terlalu gugup untuk seperti dulu lagi.  Kakak... Merasa khawatir dan takut apa yang kakak ucapkan hsnyalah menyakiti hatimu.
Key.. adikku, tidak sedetikpun waktu kakak tanpa memikirkanmu. Kakak selalu berjuang untukmu. Sebab kakak mencintaimu  kakak tidak ingin ditinggal pergi olehmu. Kakak berjanji, bekerja keras untuk mengembalikan ceriamu, mengembalikan apa yang kamu rindukan di masa-masa itu.

****

Hadijah, Haya, dan Ilham duduk bertiga, disela jam istirahat kerja. Hati Hadijah sudah mantap. Ia menolak pinangan Ilham dengan alasan yang tidak bisa dijelaskan. Ilham kecewa, dan meninggalkan mereka berdua dengan wajah memerah... Marah.

****

Hadijah bertekad membahagiakan adiknya meskipun tanpa Keysha sadari. Hadijah berkerja keras. Keysha adalah kunci kebahagiaannya. Sumber cinta, kasih dan sayangnya.
Siang dan malam ia dedikasikan untuk membuat yang terbaik bagi pekerjaannya, desainnya semakin berkelas. Ia mengejar satu cita-cita yang ingin diwujudkan. Untuknya untuk adiknya.
Hingga ia lupa waktu, lupa menjaga kesehatan. Ia sering bekerja namun mengabaikan minum. Berlarut-larut hingga akhirnya terbujur di rumah sakit. Dokter berkata ginjalnya bermasalah, sangat kronis. Dan lebih buruk lagi adalah, karena itu ia harus mulai cuci darah. Dua kali seminggu. Jika tidak, dokter tidak bisa menjamin nyawanya masih selamat.
Hadijah meminta dokter merahasiakan ini dari adiknya. Cukup perusahaannya yang tahu sehingga bisa memerikan dispensasi setiap kali cuci darah.

****

Sebuah motor keluran terbaru terparkir di depan rumahnya. Keysha yang baru pulang sekolah bertanya-tanya milik siapa motor ini. Dia masuk ke rumah. Di meja tergeletak sebuah surat dengan kalimat sederhana, "Key, adikku sayang, mari kita mengulang kembali masa-masa yang kamu rindukan itu." Didalamnya ada sebuah gantungan kunci. Kunci motor itu! Kunci motor milik Hadijah! Dan Keyshapun berteriak senang, mencari kakaknya. Ia dapati kakaknya di dapur memasak. Mereka berpelukan haru. Pelukan yang pertama semenjak berbulan-bulan lamanya. Atau mungkin bertahun-tahun lamanya.

****

Hari Selasa di awal April itu, adalah tanggal istimewa Keysha. Sweet seventeen. Secara tidak sengaja, dia pun melihat tanggal itu sudah dilingkari kakaknya dan diberi catatan, "izin tidak ngantor dulu". Keysha berpikir pastilah kakaknya memang mengosongkan waktu untuk mereka berdua. Keysha menemui Hadijah, ingin mengajaknya bertamasya keliling kota dengan motor. Tapi Hadijah secara mengejutkan menolak dengan halus bahwa hari itu ia ada keperluan lain. Keyshs tidak mau tahu. Ia bersikeras agar Hadijah mau menemaninya di hari istimewa itu. Tanpa mempedulikan wajah Hadijah yang lebih pias daripada biasanya. Dengan sayu, Hadijah mengiyakannya. Keysha bahagia.
Mereka keliling kota. Mampir di alun-alunnya, ke museum-museumnya, ke taman-tamannya hingga berencana berfoto ceria di taman balaikotanya.
Ketika di balai kota, keysha melihat Hadijah semakin lemah saja. Keysha tidak tahu bahwa hari itu adalah jadwal cuci darah kakaknya.
Hadijah meminta untuk duduk di sebuah kursi taman. Duduk berdua. Kepala Hadijah disandarkan di pundak adiknya itu. Ia terpejam  tenang sekali dengan senyuman menghiasi wajahnya yang berkacamata.
Keysha senang melihat wajah kakaknya yang teduh. Wajah yang tanpa dia sadari adalah wajah terakhir yang ia lihat dari kakaknya itu. Napas Hadijah itu sudah berhenti.

Rancaekek, 6 april 2016.

Jumat, 12 Juni 2015

Saudaraku, Kurang Toleransi Apa Muslim di Indonesia?

Oleh: HD Gumilang*

Di waktu umat Kristiani merayakan Natal dan serentak mall-mall bersolek dengan nuansa pohom pinus hingga topi merah Santa Klaus, para karyawannya yang muslim dituntut untuk mengenakan atribut itu dengan hati yang galau.

Ketika umat Hindu di Bali merayakan Nyepi, kaum muslim minoritas di sana dituntut untuk turut hening senyap demi menghayati ritual itu, walau dengan perasaan gundah gulana.

Jadi, salahkah kami kaum muslimin meminta kepada orang-orang untuk menghormati bulan Ramadan tempat ibadah Shaum dijalankan? Kami hanya meminta untuk dihargai dihormati saja, apalah susahnya? Kami tidak memaksamu untuk ikut melaksanakan shaum, sebab kemantapan imanlah yang menjadi pembedanya. Kami tidak melarangmu makan minum di siang hari jika itu memang panggilan alam yang takdapat ditahan. Tetapi tolonglah, jangan makan minum terang-terangan.

Indonesia menjadi indah bila kita seiya sekata sejalan seiringan. Walaupun berbeda dalam keyakinan.

*Kontributor Peradaban

Selasa, 26 Mei 2015

Wanita yang Hanya Mau Bercerita Pada Seorang Lelaki

Aku mendapatkan kabar bahwa dia dikenal sebagai seorang gadis pendiam. terkesan angkuh dan acap kali membuat kaum lelaki ciut nyalinya. Apalagi perawakannya tergolong tinggi untuk seorang perempuan.

Sebetulnya, aku tidak betul-betul mengenalnya, waktu itu. Ya, benar. Waktu itu. Hanya sepintas saja. Seperti sayup-sayup cerita yang hinggap di telingaku itu. Begitu saja.

Sampai akhirnya, Allah menakdirkan bahwa aku dan dia: kami. Menikah.

Pelan-pelan, betul-betul pelan-pelan, aku mulai mengenalnya. Mengetahui kepribadiannya. Dan alasan-alasannya.

Diamnya dia, angkuhnya dia, bukan tanpa maksud. Diamnya dia adalah bentuk penjagaan diri. Dia betul-betul berupaya keras mengendalikan dirinya demi menjadi gadis yang baik. Katanya, "Bidadari surga, bidadari dunia."

Yang kutahu kemudian, dia sangat senang bercerita, apa saja, sampai harapan-harapannya, kejadian-kejadiannya, mimpi-mimpinya, apa saja.

Meskipun dia tahu kelemahanku, yaitu tidak mendengar seperti orang kebanyakan: tunarungu. Dia tidak malu, tidak mengeluh. Setiap ada kesempatan, walaupun aku sedang tidak memakai alat dengar, dia selalu mendekatkan bibirnya di telingaku, bercerita macam-macam. Dengan nada suaranya yang merdu. Beruntunglah aku, Allah mengaruniakan kelebihan sebagai seorang pendengar yang baik. Maka aku selalu betah, mendengarkan ceritanya, walaupun kuping telinga sampai memerah panas. Itu tidak jadi soal.

Bagiku, dia adalah seorang wanita yang hanya mau bercerita pada satu orang lelaki saja. Dan, lelaki yang menjadi pilihannya adalah: Aku.

[]

HD Gumilang, 26 Mei 2015

Minggu, 15 Februari 2015

In Jannah If Not In This World



By: HD Gumilang

Senja telah beranjak ke peraduannya, sekelompok burung camar mulai berterbangan di atas langit yang menggelap. Mentari yang merah merona itu mulai tenggelam. Sayup-sayup terdengar gema adzan maghrib bergemuruh dari corong speaker masjid tak jauh dari rumahku. Merdu dan membawa ketenangan dalam hati ini.

Selepas menunaikan shalat maghrib, Aku memainkan pena dengan pikiran yang bimbang, sambil tiduran di kamar aku mulai menuliskan sesuatu, “Siapa dirimu sebenarnya?” dengan sebuah tanda tanya yang besar sekali.

Mulanya, beberapa hari yang lalu, waktu malam berkutat di beranda Facebook datang sebuah permintaan pertemanan dari seseorang yang belum akun kenal sebelumnya. Namanya Hasan Al Bann.

Dengan tanpa berpikir panjang, Aku langsung mengonfirmasi pertemanannya. Bagiku, menambah pertemanan di jejaring sosial seperti  fb adalah bagian dari usaha memperluas silaturrahim dan juga jaringan. Sesaat aku tersenyum, namanya mirip sekali dengan seorang tokoh Islam yang mendirikan sebuah pergerakan yang hingga kini pengaruhnya meluas di seantero negeri.

Namun seperti biasa, setelah itu aku kembali dengan duniaku, ku tuliskan sebuah status, “Merindukan syurga adalah seperti orang yang menjual sesuatu yang bernilai dan dia mendapatkan imbalan yang sangat besar hasil penjualannya itu.”

Ada rasa bosan yang mengurung diriku, tak ada akhwat yang bisa di ajak chatting malam ini. Lalu terbersit dalam benakku sebuah rasa penasaran. Hhmm, tentang teman baru yang tadi, Hasan.

Ku pikir, siapa ya dia? Namanya unik sekali, apakah dia seorang ikhwan?

Kemudian aku buka profilnya maka terpampanglah beberapa status terbarunya. Ternyata Hasan bukan orang sini, pikirku. Ku lihat, dia ternyata dari sebuah negeri di Eropa Timur. Ku perhatikan bahasanya. Aku mengeryitkan dahi, bahasa apa ini sangat tidak aku mengerti.

Dari sederetan statusnya itu, ada satu yang menarik perhatianku meski aku tak mengerti sedikitpun arti dari bahasa tersebut. Lantas aku berkomentar dibawah status tersebut, “Can you exsplain in English?”

Suara jangkrik silih berganti meramaikan keheningan malam ini, seiring dengan waktu yang terus bergulir. Ku tunggu balasan komentar dari dia namun belum juga ada jawaban. Sementara rasa kantuk menyerang semakin ganas dan bertubi-tubi. Dan tak terasa, aku pun mulai tertidur lelap seiring dengan mengatupnya kedua kelopak mataku. Tidurkan aku dalam rasa syukurMu ya Rabb.
* * *

Hembusan angin dingin yang menyejukkan, suara camar bertasbih memuji kuasa Sang Pencipta, begitupun dengan dedaunan yang menitikkan embun memanjatkan rasa syukur kehadirat Allah azza wa jalla.

Rincik air wudhu begitu menyegarkan pori-pori seluruh bagian tubuhku, betapa Allah memudahkan kita untuk mensucikan diri, betapa Allah memperhatikan kita semua.

Setelah melakukan rutinitas harian di pagi hari, ku buka notebook Aspire kesayanganku itu, sekadar untuk melihat pemberitahuan terbaru di berandaku.

Sambil ditemani segelas teh manis hangat aku mulai menelusuri pemberitahuan satu persatu. Ada sebuah pemberitahuan yang menarik perhatianku, sebuah pesan di dindingku dari Hasan. lantas aku mengkliknya.

Ku rerutkan dahi sehingga membentuk garis-garis kecil, sebuah kalimat berbahasa Inggris. Ternyata, itu adalah jawaban dari yang semalam aku tanyakan. Ternyata itu tenang hati, dia bilang hati itu seperti harta kekayaan, lebih baik di jaga jangan diberikan kepada sembarang orang.

Sejenak aku merenung, hati adalah kekayaan. Bahwa ternyata kekayaan itu bukan tentang banyaknya uang yang dimiliki, atau kekayaan materi yang bergelimang dalam hidup. Tapi ternyata, kekayaan yang sebenarnya adalah hati. Tapi mengapa kekayaan hati ini tidak boleh diberikan kepada sembarang orang? Pikirku sambil memainkan ujung kain jilbab lebarku yang berwarna biru langit.

Lalu ku tuliskan komentar dibawahnya, menanyakan dia berasal dari mana.

Tak beberapa lama kemudian dia menjawab, “I come from Albania.”

Ketika aku hendak mengetik kalimat balasan bagi Hasan, tiba-tiba ibu memanggilku dari depan pintu kamar, “Aish, tolong bantu ibu belanja ke pasar ya. Pinggang ibu tidak nyaman, sakit,” pinta beliau dengan suara yang lirih.

Ku pandangi wajah sayu ibuku yang sudah menginjak usia baya, lalu dengan segera ku matikan notebook ini, “Baik, Bu,” sambil ku layangkan seulas senyum terbaik bagi ibuku tercinta lantas aku peluk tubuh ibu erat, “Aish sayang ibu,” sambil ku kecup mesra kening ibu yang pagi ini berjilbab hitam. Lalu ku berjalan ke depan pintu rumah.

“Nak, kenapa kamu terburu-buru?” sergah ibu cepat.

“Kenapa bu? Kan Aish mau ke pasar,” jawabku polos.

“Lho, ini uang belanjanya masih dipegang di tangan ibu, nak,” timpal Ibuku sambil tersenyum dan menghampiriku.

Refleks aku tersenyum malu sambil garuk-garuk kepala yang sebenarnya tidak gatal “Iya, bu maaf, Aish tadi terpesona dengan wajah cantik ibu pagi ini sampai-sampai lupa mengambil uang belanjanya,” kataku manja sambil memuji ibuku. Dan beliau mencubit hidungku penuh rasa cinta.
* * *

Sudah beberapa minggu terakhir ini aku tak membuka fb, dikarenakan kesibukan yang aku lakukan. Maklum, meskipun aku anak bungsu dari lima bersaudara, dan keempat orang kakakku itu laki-laki semua aku tidak ingin hidup dalam ketergantungan kepada kakak-kakakkku. Aku ingin mandiri.  

Alhamdulillah sejak masuk kuliah empat tahun silam, aku mulai memiliki jaringan yang cukup luas, apalagi aku kuliah di sebuah perguruan tinggi yang memang memiliki link yang cukup luas di dunia kampus. Maka aku mulai berbisnis kecil-kecilan. Jualan aneka aksesoris muslimah. Dari sanalah aku mulai belajar untuk mandiri dan melepaskan ketergantungan dari keluargaku.

Setelah kesibukanku kembali berangsur dalam titik normal aku pun mendapatkan waktu luang untuk membuka fb. Maka, sore ini aku pasangkan lagi modem di notebookku, ku lihat status-status terbaru yang diposting oleh teman-temanku. Ku baca satu demi satu, kebanyakan memberikan semangat dan aku paling suka hal itu. Beberapa saat aku tersentuh membaca kiriman teman-teman lainnya yang dilanda kesedihan, ku do’akan mereka supaya segera diberi kebahagiaan kembali oleh Allah. Lalu, kedua mataku terpaku membaca status-status yang bagus dari Hasan, aku berikan like di status-statusnya. Ternyata kemudian dia mengirimkan sesuatu di dindingku, isinya.

“I’m fall in love, and this love as same as a traffic light. I want to know what I can do,” ku menarik nafas sejenak lalu melanjutkan membacanya dalam hatiku, dia mengatakan apakah harus terus mengejar cinta itu, apakah harus berhati-hati, atau berhenti?

Aku tertegun sejenak, lalu ku balas, “You must take care, be carefull.”

Selang beberapa saat, dia menjawab singkat, “Yes, I can do it.”

Aku bertanya,. “How old you?”

“I’m very old.”

Sejujurnya aku bingung, apa yang dimaksudkan oleh Hasan tersebut. Tak disangka, dia mengirimkan sebuah pesan di inbox dan mengatakan usianya yang sebenarnya serta menerangkan bahwa Hasan Albann bukanlah nama aslinya, terus dia bilang untuk menjaga rahasia ini dan jangan disebarluaskan.
Sebuah perkenalan yang sangat singkat. Lalu aku terlibat perbincangan dengannya tentang kondisi Indonesia, keadaan di Albania.

Aku tersentuh ketika dia ceritakan bahwa Albania itu adalah negeri yang indah, namun jumlah penduduk muslim di sana sekarang sedikit. Aku lanjutkan bacaannya, bahwa seperti halnya negeri muslim lainnya, di sini kami mendapatkan banyak tekanan demi tekanan namun semua itu menjadikan kami semakin kuat, insya Allah.
* * *

Beberapa hari setelah percakapan tersebut, tepatnya sekitar pukul 9 pagi di hari libur, hatiku tak kuasa menahan tangis. Ku hubungi sahabatku, Teh Ratih.

“Assalamu’alaikum¸Teh, ini Aish, bisa ketemu hari ini. Ada yang ingin Aish ceritakan,” kataku dengan suara yang pilu.

“Wa’alaikumsalam, iya ada apa dik? Kenapa kamu menangis?” suara Teh Ratih tedengar khawatir dari sana.

“Aish, ingin bicara sama teteh, ingin bercerita tentang sebuah perasaan yang hinggap dalam hati Aish, hiiikks.”

“Baik dik, kita ketemu di Masjid Kaum pukul 10 ya,” jawab Teh Ratih akhirnya.

“Syukran ya Teh. Wassalamu’alaikum.”

“Wa’alaikumsalam.”

Ku susut air mataku yang sedari tadi tumpah, aku bersyukur masih ada Teh Ratih, sahabatku yang selama ini selalu menjadi pasangan curhat bagiku. Dia selalu bersabar menerima keluh kesahku, dia yang selalu dapat menenangkan hatiku dan dia yang selalu dapat membesarkan kembali hati ini.

Sekitar pukul sepuluh, aku sudah tiba di Masjid Kaum dan duduk di serambi yang tidak jauh di pintu samping masjid ini. Tak berapa lama Teh Ratih pun datang. Dengan tergesa aku berdiri dan berlari menghampirinya dan menyandarkan wajahku di bahunya disertai isak tangis. Teh Ratih lantas menenangkanku sambil mengingatkan bahwa banyak orang di masjid yang mungkin melihatku.

“Kamu kenapa, dik? Hingga menangis seperti ini?” tanya teh Ratih heran, kerudung merahnya sedikit terkibar oleh hembusan angin yang sejuk kepada kami.

“Hiikkss, Aish ingin bercerita teh.”

Dengan wajah yang teduh teh Ratih mengangguk pelan, mempersilahkan aku untuk bercerita.

“Beberapa minggu lalu, Aish menerima pertemanan dari seorang bernama Hasan. Hasan Albann di fb. Dia berasal dari Albania. Seorang yang tentu jauh dari sini dan tidak Aish kenal sama sekali. Di sana kami terlibat banyak percakapan tentang Indonesia, tentang Albania, tentang harapan kami masing-masing. Aish merasa kagum karena pengetahuannya mengenai dunia islam sangat luas, kecintaannya kepada dienullah terlihat sekali. Tanpa Aish sadari, seringkali hati ini tersentuh ketika dia menceritakan tentang saudara-saudara kita di Palestina, Iraq, Afganistan dan di negeri kaum muslimin lain yang hingga saat ini tertindas oleh mereka yang tidak menghendaki Islam berdiri di muka bumi ini. Aish tersentuh karena ketika di negeri ini Aish bisa hidup aman dan damai, di waktu yang bersamaan ada saudara kita yang meregang nyawanya, tertindas hidupnya, direnggut haknya dan dilecehkan kehormatannya.

Suatu ketika dia mengatakan, dia berharap suatu hari Aish singgah di Albania. Dan dia juga bilang bahwa dirinya akan berusaha untuk mengunjungi Indonesia suatu ketika, mencoba belajar bahasa kita."

Aku berhenti sejenak, ada air mata yang berlinang di mataku. Aku seka air mata yang menetes ini. Dan dengan sabar Teh Ratih masih setia menyimak curahan hatiku ini.

“Lalu apa yang terjadi, dik?” Tanyanya ramah.

“Terus Aish akhirnya tau ternyata dia itu adalah seorang soldier. Soldier of Allah. Dia berasal dari Albania  bekerja di kalangan mujahidin di Syam. Tetapi bukan ISIS. Lalu ada kalimat yang meluncur dari Aish, ‘Aku berharap kita bisa berjumpa.’ Dia menjawab, ‘In Jannah if not in this world’… dari sana Aish lose contact namun begitu dia banyak mengirimi Aish berbagai tautan mengenai beragam medan juang muslim. Hingga akhirnya kemarin akunnya telah hilang sama sekali. Dihapus.

In Jannah if not in this world, di syurga jika tidak di dunia, sebuah kalimat yang sangat menusuk hati Aish teh, menggetarkan perasaan Aish sebagai seorang akhwat. Seolah tak ada peluang untuk bertemu di dunia ini, seolah semuanya telah tersurat bahwa bukan di dunia pertemuan ini.”

Aku tarik nafas sejenak, kemudian meneruskan lagi.

“Dia benar-benar merindukan pertemuan dengan Allah, benar-benar mengharapkan syurga Allah. Ketika Aish tanyakan memilih yang mana, Isk Kariman aumut syahidan? dia menjawab ‘syahid fisabilillah..’ lalu dia memohon agar Aish membantunya berdo’a agar meraih cita-citanya untuk syahid di jalan Allah. Dia mengatakan,’If the sun in my right hand, and the moon in my left hand, I’m never let my believing to Allah,’ dia sungguh ingin syahid di jalan Allah! Karena itu dia memilih untuk berjuang berperang di jalanNya. Membela agamanya. Dia ingin menjadi syuhada, ingin dikumpulkan dengan para Nabi, para Shidiqin, Sholihin, Syuhada maka dia menyuruh Aish mendo’akannya. Dia bilang ingin mati untuk Islam,” ungkapku sendu.

“Dik, apakah dalam hatimu mulai tumbuh sebuah perasaan cinta kepadanya?” tanya Teh Ratih.

Aku kembali terisak, ku jawab lirih.

“Teh Ratih, akhwat mana yang tak ingin menjadi bidadari seorang mujahid? Entahlah, dalam hati Aish seolah ada setitik rasa kagum atau mungkin cinta. Tapi Aish tidak mau mengungkapkan ini kepadanya dan Aish merasa memang tak seharusnya Aish sampaikan hal ini kepadanya. Bisa dikatakan, Aish hanya mencintainya dalam diam, cukuplah Allah dan Teh Ratih sekarang yang mengetahui bahwa ada rasa suka tanpa harus dia tahu tentang ini. Kendati Aishpun bertanya, adakah sempat bagi seorang soldier untuk membuka internet di tengah-tengah intaian perang yang takberkesudahan.”

Lalu ku peluk erat tubuh Teh Ratih, ku tumpahkan segala gelisahku selama ini, rasa rinduku yang terpendam, jerit hatiku yang terbungkam, rintihan jiwa yang penuh harap, kepadanya. Berurai air mata, mengharapkan sebuah pertemuan yang kecil untuk terjadi.

“Hasan beruntung,” tiba-tiba kalimat itu keluar dari Teh Ratih.

Aku tidak mengerti, dengan suara yang masih sendu ku tanyakan.

“Beruntung bagaimana, Teh? Dia dicintai oleh seorang akhwat yang lemah seperti Aish disebut beruntung?”

“Hasan beruntung karena ada dirimu yang mau membantu mendo’akannya untuk syahid. Hasan beruntung karena engkau mampu menahan diri untuk takmengungkapkan rasa cinta kepadanya karena bisa jadi jika dia mengetahui engkau mencintainya itu akan merubah niatan syahidnya. Adikku, bila engkau mencintainya, hanya satu harapan teteh, jangan lebihkan cinta dari Allah. Cintailah dia untuk mengharapkan ridhaNya, dengan kasih sayangNya. Benar, cintailah dia dalam diam, tak usah engkau ungkapkan rasa cinta ini. Sampaikanlah saja cintamu kepada Allah dan biarkan DIA yang mengurus persoalan cintamu kepada Hasan. Bila engkau mencintainya karena Allah, akan hadir ketenangan dalam hatimu, dan keikhlasan untuk menerima segala keputusanNya. Teteh yakin, engkau pasti bisa menjalani ini. Kuatkan hatimu dengan senantiasa mengingat Allah.”

Dengan lembut tangan Teh Ratih membelai kepalaku yang memakai jilbab ini. Ada keteduhan dalam hatiku setelah mendengarkan nasehat darinya. Rasa syukurku kepadaMu ya Rabb, mengutus seorang saudari yang bisa mengingatkanku akan segala nikmatMu..

Fabiayyi ala irobbikuma tukadzdzibaan..
* * *

Ketika malam semakin sunyi, dan angin yang dingin menyusup dari celah jendela berhembus pada tubuhku. Terdiam aku memandangi rembulan yang bersinar, ditemani oleh bintang gemintang yang bercahaya. Memberikan sebuah pesona indah di malam yang hening ini.

Ketika ku teringat Hasan, ku ingat kepada Muhammad Al Fatih, sang penakhluk Konstantinopel. Seorang pribadi yang secara jujur ku kagumi, meskipun dia telah tiada beberapa abad yang lampau, namun jiwanya masih tetap hidup dalam hatiku. Hasan memang bukan Al Fatih, dan tidak bisa dibandingkan dengan Al Fatih. Karena Sang penakhluk Konstantinopel ini adalah bagian dari karunia Allah di setiap jaman akan ada orang pilihan yang memberikan pengaruh yang besar. Namun, jiwa dan semangat Al Fatih inilah yang menurutku mengalir dalam diri Hasan, dan mungkin ikhwan-ikhwan lain yang mendedikasikan hidupnya bagi kemuliaan Islam. Yang memikirkan ummat untuk sebuah masa depan yang lebih baik. Para pembangun peradaban Islam.

Dalam sepi ini, ku tuliskan sebuah puisi baginya:

Tak terbayang seperti apa dirimu,
kau begitu jauh dariku,
namun Allah mempertemukan kita walau tak secara langsung,
kau menawan hatiku dengan keshalihanmu,
dengan semangat jihadmu,
kau rindukan syahid maka kau memilih jihad menjadi jalan hidupmu.
Kau ingin dikumpukan bersama para Nabi,
para Syuhada di JannahNya.
Kau ingin Allah segera mensyahidkanmu.
Apa kau tau begitu sendunya hati ini saat kau bilang,
”In Jannah if not in this world”
Kita akan bertemu di syurga jika tidak di dunia,
Sebegitu besarkah keinginanmu untuk syahid wahai The Lion of Islam,
Walau pilu tapi dalam do’aku akan selalu ada dirimu,
aku akan berdo’a sebagaimana yang kau pinta agar Allah menjadikanmu sebagai syuhada dan martyr of this deen.
Insya Allah I will do it,
Harapanku kau akan segera menjadi syuhada Allah dan bidadari telah menanti untukmu.
Bidadari yang indah,
jelita,
putih bersih,
tak pernah tersentuh siapapun,
dan taat pada Allah.
Itulah yang pantas kau dapatkan.
Aku bahagia jika kau mendapatkan itu walau diri ini merasa pilu.
Tapi diri ini bangga karena telah mengenal Mujahid sepertimu.
Wanita mana yang tidak ingin menjadi bidadari seorang mujahid?
Dalam do’a ku berharap engkau dapat meraih kesyahidan di jalanNya,
meraih kebahagiaan di JannahNya,
bertemu para anbiya,
bersua dengan para syuhada,
berdzikir dengan para shidiqin dan bercakap dengan para sholihin.
Dan ya Allah,
hanya satu pintaku,
pertemukan kami dalam JannahMu,
Bila itu Engkau Ridha.
________


Selasa, 06 Januari 2015

Catatan Kecil: Dunia Peran

Barangkali ada sebagian dari kita yang jengah ketika menonton film di bioskop. Filmnya bagus, Islami banget, tetapi sayang pemerannya --yang Islami di film-- ternyata di dunia nyata hedon begitu.

Ya, memang tidak salah kalau alam ideal kita menuntut realita yang ideal pula. Begitupun dengan film yang ditonton. saya juga kadang berpikiran seperti itu.

Namanya juga dunia peran. Dunia peran adalah tempat di mana kita bisa menjadi apa yang kita mau. Mau menyuguhkan aktor/aktris yang kepribadiannya setipikal atau tidak dengan peran yang dimainkan itu hak mutlak para penggarap film.

Kita hanya perlu mendo'akan, semoga para pemeran film Islami bisa memetik hikmah-hikmah Islam selama proses syuting, mempelajarinya, dan mengubah tabi'atnya menjadi lebih berakhlaqul karimah.

Meskipun demikian, pernah terjadi juga pemeran dalam film Islami di dunia nyatanya tergolong orang yang lurus-lurus saja. Semisal tokoh utama di film Fatahillah yang diperankan oleh Igo Ilham. Habibburahman el Shirazy --walau bukan pemeran utama-- di Ketika Cinta Bertasbih.

Sabtu, 03 Januari 2015

Karena Engkau Istimewa



"Masgan, lebih baik mana Dikcan dengan Asmara Nadia?" tanya sesosok perempuan sambil menunjuk sebuah foto yang dipajang di dinding itu. Lelaki yang disapa Masgan itu terdiam cukup lama. Dari bibirnya takkeluar jawaban, sepatah katapun. Hanya jemari kanannya saja yang bergerak mengelus-elus janggut yang tumbuh menghiasi dagunya. "Kenapa tidak dijawab?" "Dia, wanita yang luarbiasa, Dikcan," cetus Masgan. "Oh.." perempuan yang disapa Dikcan itu tertunduk kepalanya, jemari-jemarinya mulai memainkan ujung jilbab hitam yang dikenakannya. "Dia, betul-betul wanita yang luarbiasa, tangguh, dan mempunyai seberkas cinta yang tulus." Degup hati Dikcan semakin kencang, agak sesak pula rasanya. bukan apa-apa dibandingkan Asmara. Aku bukan siapa-siapa. Bahkan Masgannya sendiri mengagumi Asmara. Lirih Dikcan di dalam hati. "Tetapi.." suara bariton Masgan berhembus lembut memasuki dedaunan telinga perempuan ayu itu. "Engkau yang paling istimewa, Dik. Engkau benar adanya. Nyata. Engkau tegar adanya. Dan itu nyata pula. Engkau hadir di sampingku. Benar nyata adanya. Dan yang paling penting dari semuanya adalah, engkau ikhlas menerima Masgan apa adanya. Semua itu bagi Masgan sudah lebih dari cukup. Masgan mencintaimu betul-betul," pungkasnya. Sebuah senyum menghiasi wajahnya, sebarisan gigi yang rapi menambah sedap untuk dipandangi. HD Gumilang 2 Januari 2015, Ba'da Jum'atan.

Jumat, 02 Januari 2015

Selepas Menonton Assalamu'alaikum Beijing

Oleh: HD Gumilang
Dan kabar bahagia itu datang tanpa disangka-sangka, persis bagaikan rezeki yang hadir dari arah yang tidak tertebak. Pada mulanya adalah pesan singkat dari koordinator Rumah Baca Asmanadia (RBA) Jawa Barat, Kang Jejen di malam pergantian tahun (31/12). Intinya Mbak Asmanadia mengajak kami untuk nonton bersama Assalamu’alaikum Beijing pada Kamis (1/1). Rencana awalnya di XXI Jatinangor Town Square (Jatos), namun akhirnya pasti di XXI Cihampelas Walk (Ciwalk). Singkat cerita, kami bertiga (bersama istri tercinta Eika Vio) meluncur dari Cianjur. Selama menanti di lobby, kopi darat juga dengan para srikandi Komunitas Bisa Menulis (KBM). Kami mendapatkan tiket menonton pukul 14.55 di Cinema 6. Selepas menonton film ini, kamipun berkesempatan berjumpa dengan Mas Isa Alamsyah, Meyda Safira dan bunda tercinta Helvy Tiana Rosa. Secara jujur ingin berterus terang, dari ketiga anak manusia ini, yang telah menyelesaikan baca novel Assalamu’alaikum Beijing hanyalah istriku. Jadi, ketika menonton praktis saya takmemiliki bekal memadai dari hasil bacaan sebelumnya. Film Assalamu’alaikum Beijing adalah -dalam bahasa Mbak Asmanadia- proyek kebaikan. Dan proyek kebaikan itu bisa dilakukan oleh semua orang, takpandang bulu. Saya sendiri menyebut film Assalamu’alaikum Beijing ini sebagai salahsatu kontributor peradaban. Yang jika kita menontonnya, makan akan diperoleh bahan dasar berharga menuju perbaikan diri. Perbaikan umat. Ya, benar, karakter para tokoh dalam film ini memang bukan orang-orang sempurna. Asmara Nadia, Zhong Wen, Dewa mereka adalah tokoh yang punya masa lalu takcerah dengan problematikanya masing-masing. Adalah Asmara yang memutuskan pergi ke Beijing sebagai jurnalis, imbas dari kekecewaan terhadap Dewa yang gagal menikahinya. Di Beijing bertemu dengan seorang pemandu wisata bernama Zhong Wen. Aktivitas mereka memungkinkan keduanya saling mengenal satu sama lain. Jika kita berharap sebuah pergaulan yang sempurna dalam film ini, maka hal itu belum bisa didapatkan. Namun, jika anda ingin melihat bagaimana para tokoh taksempurna ini berjalan ke arah perbaikan diri maka Assalamu’alaikum Beijing adalah pilihan tepat. Sebetulnya kisah seorang non muslim yang mencintai muslimah, tersibghah hidayah Allah kemudian menjadi mualaf itu sudah lumrah. Namun latar belakang Mabk Asma sebagai ‘orang pergerakan’ justru sanggup mencelupnya dengan warna kedamaian (sebut: Islami), memberikan inspirasi penggugah jiwa, dan mengundang rasa penasaran orang untuk datang menontonnya. Segi pengemasan film ini menarik. Sajian pemandangan kota Beijing berserta tempat-tempat wisatanya juga disuguhkan dengan baik. Plot yang dibuat sanggup membuat kita mengurai air mata, melukis senyum, dan merenung. Meskipun begitu agak sedikit lambat di awal cerita. Tapi itu takjadi persoalan. Ada pula pelajaran untuk seorang calon penulis, Mbak Asma berhasil melogiskan tentang bagaimana seorang asing sanggup berbahasa Indonesia. Selama ini kadang kita merasa aneh, jika latar tempatnya di luar negeri, tokoh yang terlibat adalah orang asing, kok bisa mereka tampak berbahasa Indonesia (atau mungkin mereka berbahasa setempat yang --dalam tulisan novel-- di bahasa Indonesiakan). Di sini alasan Zhong Wen punya kemampuan bahasa Indonesia itu sangat sederhana, “Karena saya seorang pemandu wisata, maka mesti memiliki kemampuan banyak bahasa.” Kadang saya sempat berpikir juga, mengapa destinasi yang dituju Asmara adalah Beijing. Mengapa Asmara datang ke kota yang bahasanya saja tidak dia kuasai. Tetapi, setelah dipikir kembali kalau Asmara ke kota lain, atau setidaknya dia bisa berbahasa Mandarin mungkin dia tidak akan bertemu dan berjodoh dengan Zhong Wen. Apalagi di tengah ratusan juta penduduk China. Agaknya ungkapan “Dunia selebar daun kelor,” cocok untuk Assalamu’alaikum Beijing. Jodoh itu memang dekat. Dekat di sini bukan makna harfiah --terbayang jauhnya jarak Jakarta-Beijing-- tetapi dekat di sini adalah karena Allah yang telah melipat jarak diantara keduanya. Saksikan filmnya dan jadilah kontributor peradaban yang mendukung proyek kebaikan ini. HD Gumilang Ditulis malam hari 1 Januari 2015, ada jeda baru selesai Qabla subuh 2 Januari 2015

Selasa, 23 Desember 2014

Selepas Menonton Stand By Me Doraemon

Selepas Menonton Stand By Me Doraemon
By: HD Gumilang*

Jadi singkatnya, selasa siang ini (23/12) saya bersama istri dan adik ipar ada waktu luang untuk menonton Stand By Me Doraemon (SBMD) di Blitz Megaplex Miko Mall Kopo-Bandung. Antrian tidak terlalu padat. Animo masyarakat masih lumayan. Anak-anak yang datang cukup ramai. Meskipun ketika di dalam studio, deretan bangku persis di depan saya kosong takterisi.

SBMD menceritakan awal mula kedatangan Doraemon yang diutus oleh cucu dari cucunya Nobita, si Soby yang ngenes banget melihat nasib buruk yang dialami oleh kakek buyutnya itu. Si Soby ceritanya datang dari abad 22, keturunan keempat dari Nobita. Nah, Doraemon ini diperintahkan untuk membantu mengubah nasib Nobita. Pokoknya sebelum Nobita bahagia, Doraemon dilarang hukumnya balik ke masa depan. Singkat cerita, setelah berbagai peristiwa, Doraemon berhasil membuat Nobita bahagia dan akhirnya kucing robot ini balik lagi ke masa depan. Tetapi akibat obat antibohong yang diminum Nobita, Doraemon malah balik lagi dan menemani Nobita selamanya.

Saya mau berbagi beberapa hal tentang SBMD. Kalau dari segi visual, animasinya sudah keren banget. Top deh. Tetapi ada poin-poin lainnya yang mesti kita perhatikan, mudah-mudahan ada hikmah yang bisa kita petik bersama-sama.

1. SBMD adalah film cerita dewasa yang dikemas dalam tokoh anak-anak. Dunia anak-anak yang semestinya bermain dan bermain. Nobita menjadi anak kecil yang obsesif memikirkan pernikahan. Keinginannya adalah menikah dengan Sizuka. Obsesi ini muncul akibat bocoran dari si Soby, dan tentu saja Doraemon. Saking obsesifnya, Nobita nekat menerobos masa depan, mengintip nasib Nobita dewasa yang hendak melamar dan menikahi Sizuka. Kasihan, dunia anak-anak sudah diberikan beban pernikahan, padahal belum waktunya. Bahasa sastranya adalah, "Layu sebelum berkembang."

2. SBMD menyajikan pemecahan masalah yang enggak oke padahal masalahnya oke. Ini terjadi dalam dua kasus.
a. Ketika Nobita ingin menjauhi Sizuka, ingin membuat Sizuka membenci dirinya. Ini masalah sebetulnya keren, kita akan menyaksikan bagaimana seorang anak hendak menjauhi Sizuka yang secara sadar ada rasa cinta, meskipun aneh banget anak ingusan udah mikir cinta-cintaan, huekkss.. Tapi cara penyelesaiannya, ya amplop ancur. Kok Nobita bertindak super konyol. Dia menyingkap rok Sizuka. Karuan Sizuka marah besar, mukanya merah padam. Dan sebuah tamparan mendarat mulus di pipi Nobita. Walaupun setelah itu diperlihatkan Sizuka heran dan merasa aneh dengan sikap Nobita. Padahal kan, banyak opsi lain untuk menyelsaikan masalah itu. Nobita jadi rajin belajar kek, jadi tidak terlambat ke sekolah kek. Apalah segala aktivitas positif yang menjauhkan dia dari perilaku yang tidak pantas untuk anak seumurannya.

b. Ketika Nobita ingin menunjukkan kemandirian, ingin membuktikan bahwa dia mampu berdikari tanpa bantuan Doraemon. Nah, ini juga bagus, memberikan pengertian bahwa anak-anak harus mulai mandiri. Tidak malas. Jauh dari benda-benda yang serba memudahkan. Tapi sayang, cara penyelesaiannya yang salah. Ini kok Nobita malah memilih cara penyelesaian, "Doraemon aku akan buktikan aku bisa tanpa kamu, aku bisa mengalahkan Giant tanpa bantuan kamu." Dia berkelahi dengan Giant. Sampai bonyok babak belur. Cara yang hancur. Ini berbahaya banget kalau ditiru sama anak-anak kita, kacau dah dunia persilatan, eh dunia pendidikan. Padahal kan, bisa saja skenarionya adalah Nobita mulai mandiri, mengerjakan tugas sendiri, mengerjakan PR sendiri, semuanya dilakukan dengan kesadarannya untuk berdiri di bawah kaki sendiri.

3. Pak Guru yang perhatian. Ini scene keren, sayangnya hanya sebentar. Padahal saya inginnya pak guru di eksplor lebih dalam. Saya seneng ketika pak guru ngomong begini sama Nobita yang langganan dapat nilai Nol, "Nobita kamu selama ini selalu dapat nilai nol, bapak khawatir dengan masa depan kamu." Duh, ini tipe guru yang baik, perhatian dan peduli terhadap nasib dan masa depan anak didiknya. tipe guru langka saat ini. Sayang, sepertinya tokoh pak guru tidak dianggap sentral oleh para pembuat filmnya.

4. Orang tua yang tidak memperhatikan aktivitas anak-anaknya. Ketika nulis poin ini, saya ingat pada realitas dunia. Sudah bukan hal aneh lagi orang tua super sibuk dengan kerjaannya, anak-anak yang dititipkan kepada pembantunya. Maka takheran kalau anak-anak mereka lebih dekat dengan para pembantu dibandingkan dengan mereka sendiri. Nah ini yang terjadi kepada orangtua Nobita. Mereka entah kemana, hilang arah tujuan, scenenya kurang, dan aktivitas Nobita dengan orang tuanya pun sedikit. Ketika Nobita membantu membersihkan halaman rumah, itupun berkat bantuan alat dari Doraemon. Nobita itu gambaran anak yang broken home, kurang kasih sayang dan kebahagiaan dari orang tuanya, anak yang tertindas dan teraniaya. Makanya dia lebih sedih ketika kehilangan Doraemon. Karena Doraemon mampu memberikan kebahagiaan yang selama ini takmampu diberikan oleh orang tuanya. Padahal Doraemon itu bukan keluarganya. Ya bisa dibilang Doraemon itu pembantu rumah tangga gitulah. Oh ya akibat orang tua yang tidak care itu, Nobita pun selalu menjadi sasaran empuk penganiayaan si Giant dan Suneo. Orang tua Nobita enggak tahu dan enggak pernah membawa masalah ini kepada orang tua Giant dan Suneo, ya akibat ketidakmauan mereka untuk mengetahui aktivitas anak-anaknya.

5. SBMD itu cocoknya diberikan titel Bimbingan orangtua alias BO bukan semua umur alias SU. Soalnya ceritanya kan dewasa banget, enggak cocok buat anak-anak. Makanya orangtua wajib mendampingi dan memberikan penjelasan yang sebenarnya kepada anak-anak mereka. makanya orang tua wajib punya wawasan luas, enggak cuma bermodal keren di luar tapi kosong di dalam. Soalnya berbahaya sekali jika anak-anak dibiarkan lepas bebas menonton ini. Banyak adegan pembullyan, kekerasan, dan pelecehan dalam film ini. Bahaya.

6. Karakter Nobita yang anak-anak sudah memikirkan pernikahan sebenarnya itu enggak ada dalam budaya masyarakat Jepang. Orang Jepang dikenal malas menikah di usia muda, mereka lebih senang menikah di akhir puncak karir. Di usia 30-an ke atas. Bahkan banyak yang tidak menikah. Alasannya antara lain karena menikah itu merepotkan, biayanya mahal, dan tidak mau disibukkan dengan urusan anak-anak.

7. Oh ya, terakhir ini soal ending. Tampaknya dipaksakan banget si Doraemon mesti balik lagi ke Nobita. Ceritanya kan lagi april mop, si Nobita sukses dikadalin oleh Suneo dan Giant. Nah untuk membalasnya, si Nobita inget bahwa ada satu barang yang kelupaan dibawa pulang Doraemon, sebuah kotak biru katanya kenang-kenangan dari Doraemon. Nah, soal kotak biru ini dari awal cerita enggak diungkit sama sekali, tahu-tahu si Nobita inget saja begitu. Aneh. Di kotak itu ada cairan antikebohongan, jika Nobita bilang maka akan terjadi sesuatu kebalikannya. Nah begitulah, setelah sukses membalas Giant dan Suneo, sambil terhuyung-huyung Nobita bilang, "Sayangnya, Doraemon tidak kembali, tidak ada di sini lagi." Ajaib, Doraemon datang lagi. Nah ini bikin alis saya terangkat, lho kok gini? Padahal sudah bagus endingnya ketika si Nobita girang dikabari Giant bahwa Doraemon kembali, yang ternyata cuma di tipu doang. Ujung-ujungnya Nobita mengikrarkan kata-kata perpisahan dengan Doraemon yang sebetulnya bermakna kebalikannya --kan masih ada efek cairan antibohong itu--. Padahal lho, sekali lagi padahalnya hehe, ada scene ketika Sizuka diberikan alat pengungkap isi hati, dimana dia enggak bisa bohong sama sekali. Waktu berencana membatalkan pernikahan dengan Nobita dewasa. Jadi ya, destruktif.

Yap, kurang lebih seperti itu yang bisa saya bagikan. Mudah-mudahan bermanfaat.buat kiat semua. Untuk para orangtua, ya harap dampingi anak-anaknya kalau mau nonton, film apapun itu. Harap baca dulu bahan bacaan anak-anaknya, buku apapun itu. Harap perhatikan lingkungan bermain anak-anaknya, dimanapun itu. Harap selalu dekat dan menyisihkan waktu berkualitas untuk mengobrol dengan anak-anaknya, pokoknya harus selalu dekat agar mereka juga terbuka bercerita, terbiasa mengungkapkan segala hal kepada kita orang tuanya. Karena ini semua adalah tugas kita, menjadikan anak-anak sebagai generasi rabbani, generasi pemikul peradaban yang mulia. Oleh karena itu bibit-bibit ini mesti dijaga dan berikan pupuk terbaik agar tumbuh kembang dengan bagusnya, in syaa Allah.

23 Desember 2014 ba'da isya
*Kontributor peradaban